"... tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati..."
Frasa tersebut seringkali kita temukan dalam beberapa ayat Qur'an dengan urutan yang sama persis, jangan takut dan jangan bersedih hati. Dulu saya belum paham akan pentingnya ayat ini sampai saya benar-benar mengalami sendiri. Saya teringat bahwa Qur'an berisi bahasa tersirat dan tersurat dan bersifat tekstual sekaligus kontekstual. Ayat-ayatnya relevan untuk semua zaman dan seringkali mengandung makna yang kadang membuat kita harus befikir. Dan inilah yang terjadi kepada saya.
Tahun ini adalah tahun yang berat buat saya. Saya tak bisa sebutkan kenapa tapi saya bisa ceritakan apa yang saya rasakan. Di tahun ini, saya berkutat dengan perasaan emosional yang berlebih hingga mengganggu fungsi saya sebagai manusia normal. Saya sampai pada satu titik di mana saya bertekad bahwa saya tidak akan meremehkan perasaan orang apapun bentuknya. Dan setelah berbulan-bulan berjuang, saya sampai pada satu kesimpulan. Bahwa masalah kita manusia kebanyakan berawal dari rasa takut dan sedih hati. Takut akan masa depan, sedih akan masa lalu. Ketakutan akan masa depan membuat kita tidak mampu melangkah, sedangkan kesedihan masa lalu menahan kita untuk bergerak maju.