Pages

Showing posts with label Filsafat Hidup. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Hidup. Show all posts

Sunday, 28 December 2025

Sedih dan Takut: Musuh Utama Manusia?

 "... tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati..."

Frasa tersebut seringkali kita temukan dalam beberapa ayat Qur'an dengan urutan yang sama persis, jangan takut dan jangan bersedih hati. Dulu saya belum paham akan pentingnya ayat ini sampai saya benar-benar mengalami sendiri. Saya teringat bahwa Qur'an berisi bahasa tersirat dan tersurat dan bersifat tekstual sekaligus kontekstual. Ayat-ayatnya relevan untuk semua zaman dan seringkali mengandung makna yang kadang membuat kita harus befikir. Dan inilah yang terjadi kepada saya.

Tahun ini adalah tahun yang berat buat saya. Saya tak bisa sebutkan kenapa tapi saya bisa ceritakan apa yang saya rasakan. Di tahun ini, saya berkutat dengan perasaan emosional yang berlebih hingga mengganggu fungsi saya sebagai manusia normal. Saya sampai pada satu titik di mana saya bertekad bahwa saya tidak akan meremehkan perasaan orang apapun bentuknya. Dan setelah berbulan-bulan berjuang, saya sampai pada satu kesimpulan. Bahwa masalah kita manusia kebanyakan berawal dari rasa takut dan sedih hati. Takut akan masa depan, sedih akan masa lalu. Ketakutan akan masa depan membuat kita tidak mampu melangkah, sedangkan kesedihan masa lalu menahan kita untuk bergerak maju.

Pendidikan (tidak) Penting!

Dalam satu kesempatan, Papa bercerita tentang Datuak Mumuak, seorang saudagar asal minangkabau yang merantau ke Bengkulu. Datuak lahir dan besar di sebuah keluarga miskin dari daerah Batusangkar. Kehidupan yang susah membuatnya tergerak untuk merantau, berharap nasib dan peruntungannya berubah. Cemooh dan hinaan di kampung menjadi motivasi bagi beliau untuk sukses. Dengan tekad itu, beliau berjalan kaki selama kurang lebih 60 hari dari Batusangkar ke daerah Curup, Bengkulu dengan membawa dagang hasil bumi yang bisa beliau bawa. Sesampainya di Curup, Datuak menjajakan apapun yang bisa dijual. 
 
Salah satu barang yang beliau jual adalah benang. Beliau membeli benang di Lampung dengan berjalan kaki berhari-hari. Kenapa benang? Karena itu satu-satunya barang yang tidak ada di Kota Curup. Uniknya, dalam perjalanan ke Lampung ini, beliau membuat tongkat bambu yang digunakan untuk membawa barang sekaligus menyimpan uang. Pada masa itu, marak pemeriksaan di jalan oleh serdadu Belanda. Kalaulah ketahuan kita ini saudagar yang membawa uang, bisa habis uang kita diambil. Kadang tongkatnya yang berisi uang ini beliau sembunyikan, nanti kalau sudah aman beliau ambil lagi. Begitulah perjalanan berdagang Sang Datuak cerdik ini pada masa itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kehidupan Datuak yang awalnya sengsara berangsur berubah hingga beliau menjadi saudagar besar. Sejengkal demi sejengkal tanah di Curup dibeli oleh beliau, sampai sampai pejabat daerah sana membujuk beliau untuk tidak lagi membeli tanah. Karena kalau dilanjutkan, bisa habis tanah di kota itu dibelinya. Ituah gambaran betapa kayanya Datuak saat itu.

Ternyata selain sukses berdagang, Datuak juga sukses dalam hal mengembangkan keluarganya. Anaknya banyak dan berkembang. Kalaulah difikir-fikir, enak betul jadi anak beliau. Lahir di keluarga kaya, hidup foya-foya dan tak perlu memikirkan hari tua. Semua rasanya sudah terjamin. 

Namun kenyataan kadang tak semanis harapan. Saat Datuak meninggal, anak-anaknya tak mampu mengembangkan usaha Datuak. Harta yang mulanya seperti tak hingga, pelan-pelan habis karena anak keturunannya tak mampu mengelola. Tanah dan aset hampir semuanya terjual. Dan akhirnya pelan-pelan nama Datuak Mumuak dan keturunannya hilang ditelan jaman.  

Friday, 19 March 2021

Cukuplah Kematian sebagai Pengingat

Malam ini, subuh pukul 5 pagi aku tersentak bangun. Aneh, aku bangun dengan segar meskipun semalam capainya luar biasa. Aku terbangun karena satu mimpi yang masih terngiang jelas hingga sekarang, dan aku tak ingin melupakan mimpi ini sampai kapanpun...

Dalam mimpi aku berada di suatu tempat yang rasanya tak asing lagi. Seperti bangsal asramaku ketika SMA. Di antara tempat tidur tingkat yang berdekatan, aku sedang bercengkrama dengan teman-teman. Entah siapa yang di sekitarku, akupun tak paham. Tengah asik bercerita, lewat dua orang berseragam di depanku. Perawakannya besar, berkumis dan seperti orang Arab. Sekilas mirip petugas haji atau polisi. Sesaat tiba-tiba salah seorang petugas itu berhenti di dekatku dan bertanya dengan Bahasa Arab. Aku tak paham dan sekilas hanya menangkap dia bertanya "Apakah kamu bisa Bahasa Arab?". Dengan kikuk aku menjawab "little bit". Tak paham petugasnya. Lalu aku menjawab "zahrah.. zahrah". Entah kenapa aku teringat ayat Al Quran tentang sebesar zahrah. Lalu petugasnya berkata lagi dalam Bahasa Arab yang tak aku mengerti. Sekilas hanya kutangkap dia berkata "al mauutu zikra". Entah benar atau tidak Bahasa Arab yang kudengar. Aku cuma menangkap dia mengatakan "Kematian itu adalah Pengingat".

Tuesday, 3 October 2017

Gading, Belang dan Nama

Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama

Monday, 25 September 2017

Menjadi Dewasa

Life is not as easy as you think, boy!

Kira-kira dua puluh tahunan yang lalu, saya sering berandai-andai jadi orang dewasa. Dalam lamunan saya, menjadi orang dewasa itu mengasikkan. Tak ada tugas, pekerjaan rumah, ujian, ujian nasional de el el. Jadi orang dewasa itu menyenangkan. Pendapat kita didengar, apa mau kita bisa kita wujudkan sendiri, tidak tergantung sama orang lain. Makanya waktu sekolah dulu prinsip saya saat ujian hanya satu, badai pasti berlalu 😁

Seiring waktu, saya mulai tersadar. Dulu yang berandai-andai menjadi dewasa, sekarang berandai-andai jadi kanak-kanak. When your biggest problem is just a school assignment, and your biggest wonder is what game you’ll play with your friends tomorrow.

But life must goes on! Hidup harus terus berjalan. Waktu akan terus berlalu. Pengalaman dan perjalanan yang kita tempuh, akan jadi pelajaran dan semangat di saat kita lelah.

Wednesday, 19 October 2016

Roller Coaster

"I am not afraid of height.. I am afraid of falling" (Dr. Sheldon Cooper)

Naik.. turun.. naikk.. gak turun-turun..

Mari kita berkisah tentang roller coaster. Saya pernah naik roller coaster.. satu kali. Itupun karena "dipaksa". Ampun deh sekali itu aja.. Ibarat kata, kalau boleh pilih antara naik roaller coaster sama ayam panggang pasti saya pilih ayam panggang.

Pertama kali naik roller coaster hanya satu yang terpikir. Gimana kalau saya mati di sini. Gimana kalau sekrupnya lepas. Gimana kalau gak ada remnya. Gimana kalau pengaman saya copot sendiri.. Kalau gak didorong dengan gengsi waktu itu, mau rasanya saya pulang.

Thursday, 25 August 2016

Idealis vs Pragmatis (bag. 2)

Pada postingan saya dulu, telah saya sampaikan tentang apa itu idealis dan pragmatis dalam pandangan saya. Namun, kejadian baru-baru ini membuat saya kembali berpikir apa makna idealis sebenarnya dan mengapa orang yang dulunya sangat idealis bisa berubah menjadi sangat pragmatis. Contohnya, para aktivis mahasiswa yang pada masa mudanya sangat gencar berdemo melawan korupsi bisa saja pada masa tuanya tertangkap tangan sebagai pejabat yang korupsi. Banyak contoh lain yang bisa kita ungkap. Pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa mereka berubah? Kemana idealisme yang dulu mereka gaung-gaungkan?

Idealisme, menurut hemat saya saat ini, adalah prinsip yang ideal, prinsip yang 'seharusnya', prinsip yang dapat dipegang teguh saat kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan yang ideal. Prinsip ini sulit untuk dipertahankan saat kondisi kita tidak mendukung. Ambil contoh seorang ilmuwan. Idealnya, ilmuwan tugasnya adalah meneliti dan menemukan hal baru. Namun karena kondisi finansial yang tak memungkinkan, gaji yang tak cukup, hasil yang tak sesuai dengan usaha yang dikeluarkan, maka dicarilah jalan lain, berdagang atau bikin proyekan misalnya. Atau seorang dosen yang harusnya fokus mengajar dan meneliti, tapi karena gaji dosen yang pas-pasan, dicarilah jalan lain sehingga profesi dosen hanya jadi profesi sampingan. Akibatnya mahasiswapun jadi terbengkalai dan hasilnya tak maksimal.

Monday, 15 August 2016

Mencari Pola

Oh God, help me. I am looking for a pattern.

Dalam dunia keamanan informasi, pola adalah inti dari pemecahan sebuah algoritma kriptografi. Sehingga tak heran kalau badan stardardisasi teknologi Amerika mencantumkan keacakan (randomness) sebagai salah satu kriteria saat memilih algoritma kriptografi standar. Sederhananya, sebuah algoritma kriptografi akan diasumsikan tinggi tingkat keamanannya jika memiliki nilai keacakan yang tinggi pula, baik itu dari hasil enkripsinya maupun dalam penetapan initial value saat mengolah data masukannya.

Oke, tinggalkan pembahasan teknis di atas. Let’s talk about life.

Dalam kehidupan nyata, kita boleh saja berasumsi bahwa sebuah kejadian bisa terjadi tanpa pengaruh dari kejadian sebelumnya. Lempar koin misalnya, meskipun peluang kemunculan salah satu sisi bisa kita tentukan lima puluh persen, tapi tetap saja kita tak bisa menentukan secara pasti sisi apa yang muncul saat koin dilemparkan. Pun dalam hidup ini, meskipun kita bisa bilang peluang kesuksesan orang yang punya ilmu, harta dan koneksi lebih tinggi dibandingkan orang yang tak punya apa-apa, tapi tetap saja kita tak bisa menentukan secara pasti apa yang akan terjadi pada hidup seseorang beberapa saat ke depannya. Ada banyak faktor tak terduga yang secara awam kita definisikan sebagai lucks atau God’s hands yang berperan. Sampai sekarangpun tak ada yang mampu menentukan nasib seseorang secara pasti. Kita hanya bisa menentukan kemungkinan-kemungkinan yang berpeluang muncul berdasarkan data-data yang ada saat ini dan di masa lalu. Selebihnya? Who knows!

Wednesday, 2 March 2016

Merubah Kebiasaan

"Do not give up. The beginning is always the hardest part!"
Melepaskan sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging tentulah tak gampang. Tapi bukan tak mungkin. Banyak pribadi lusuh di luar sana yang karena merubah kebiasaannya berubah menjadi pribadi hebat yang diagung-agungkan banyak orang. Semua bergantung pada kemauan dan tekad yang ada pada diri kita. Semangat yang membara. Motivasi yang besar. Dan kesempatan yang sekali dua kali datangnya.

Titik balik. Banyak perubahan besar yang terjadi pada pribadi-pribadi luar biasa yang disebabkan oleh titik balik ini. Apapun itu bentuknya. Titik balik ini adalah titik berkumpulnya semangat dan tekad yang luar biasa besar sehingga rintangan sebesar apapun itu tak akan melunturkan keinginan untuk berubah lebih baik. Tak dapat dipungkiri seringkali titik balik ini sifatnya tak tentu dan seringkali dilatarbelakangi peristiwa besar yang sangat berpengaruh pada pribadi orang tersebut. Tapi itu sifatnya tak mutlak. Sebuah kesadaran akan pentingnya perubahan adalah salah satu kunci yang bisa melatarbelakangi titik balik tersebut. Ya, sebuah kesadaran..

Friday, 26 February 2016

Hakikat Malam

Menjelang tengah malam...
Suasana lingkungan saya saat ini sudah sunyi. Tak terdengar ada aura kehidupan yang berarti. Mayoritas sudah asyik dengan mimpi indahnya masing-masing. Tapi itu di sini..

Tak beberapa jauh dari tempat saya tinggal...
Kendaraan masih sibuk hilir mudik. Lampu-lampu cafe dan pertokoan sebagian masih terang menyala. Bagi beberapa orang saat ini adalah saat memulai kehidupan. Bergelut dengan dinginnya udara Bandung di saat yang lain sudah tertidur nyenyak. Malam adalah siang. Mau bagaimana lagi. Tak kerja tak hidup. Geliat kota-kota besar membuat para pelaku bisnis merasa sayang untuk melewatkan malam untuk mencari pundi-pundi uang. Atau mungkin karena siang sudah banyak saingan. Mungkin karena waktu sudah begitu sempit. Mungkin karena malam adalah saatnya para eksekutif muda dan mahasiswa parlente mencari hiburan.

Thursday, 11 February 2016

Tujuan Hidup

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56)
Ribuan tahun sudah para filsuf dan pemikir bertanya-tanya untuk apa sebenarnya mereka ada di dunia ini. Ribuan jawaban atas pertanyaan itupun sudah tertuliskan di lembaran-lembaran naskah buku filsafat. Tapi tak ada satupun jawaban yang definitif. Rene Descartes menyatakan pandangannya, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Aristoteles, Sokrates dan Plato berpendapat bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah eudamonia (kebahagiaan). Kebahagiaan, kepuasan akan ilmu dan harta serta kenikmatan adalah titik tertinggi dari cita-cita manusia. Untuk itulah manusia hidup. Pandangan ini menjadi dasar bagi sebagian besar kita saat ini. Kebahagiaan inipun sifatnya relatif. Ada yang menerjemahkan kebahagiaan sebagai kedudukan yang tinggi, uang berlimpah, istri cantik, anak-anak yang lucu dan manis; adapula yang mengartikan kebahagiaan sebagai ketenangan hidup, ketentraman batin dan kelapangan jiwa. Dua pandangan ini sifatnya fana. Sementara. Pertanyaan yang mungkin paling penting untuk ditanyakan adalah, ada apa setelah bahagia. Setelah semuanya tercapai, lantas apa???

Saturday, 5 September 2015

Idealis vs Pragmatis

"Idealis banget lo jadi orang, gak bakal laku lo."

"Hari gini kita mau gak mau mesti pragmatis bro, kalo gak gitu lo gak bakalan maju."

Dua cuplikan percakapan di atas sering banget kita temui sehari-hari. Sering teman yang semasa sekolah atau kuliah kita kenal idealis banget tapi pas udah kerja melempem ngikut arus. Mereka gak salah sih. Tuntutan hidup yang makin keras menuntut kita untuk mengikuti apa kemauan pasar. Melawan arus berarti mati. Tapi itu gak sepenuhnya juga benar, banyak dari para penentang arus bahkan jauh lebih sukses daripada mereka yang punya prinsip ngikut apa kata orang banyak, asal bapak senang, atau apa aja lah yang penting ada. Para idealis atau penentang arus ini biasanya punya kepripadian yang kuat, mereka keras kepala dan gak takut sama apa kata orang. Sebaliknya, para pragmatis ini gak semuanya yang lembek, ada yang memang karena jeli melihat peluang dan memanfaatkan peluang itu sebaik-baiknya. Di sini kita mesti cerdas.

Thursday, 22 March 2012

Melangkahlah!

Kalau kau ingin tetap jadi orang nak, belajarlah! Tak peduli sepandai apapun engkau, kalau kau malas, hancur juga lah kau. Manusia itu makhluk pembelajar, diberi anugerah rasa ingin tahu. Kenapa tak kau gunakan?! Atau mungkin kau tak tertarik? Atau kau terlalu malas untuk bertahan sebentar sekadar mencari tahu apakah kau tertarik apa tidak?

Malas lah kau, hidup tak akan menyisakan apa-apa buat kau! Kau hanya akan seperti tahanan yang menunggu eksekusi mati. Bahkan mereka mungkin lebih baik daripada kau. Ketahuilah nak, hidup ini kejam dan culas. Kalau kau lengah atau terlena karenanya, kau rasakan nanti akibatnya. Senanglah kau sekarang, sengsara kau nanti. Cobalah untuk berfikir jernih nak. Kuatkan diri kau untuk bertahan sebentar saja. Kau hanya perlu untuk memulai. Itu saja.