"... tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati..."
Frasa tersebut seringkali kita temukan dalam beberapa ayat Qur'an dengan urutan yang sama persis, jangan takut dan jangan bersedih hati. Dulu saya belum paham akan pentingnya ayat ini sampai saya benar-benar mengalami sendiri. Saya teringat bahwa Qur'an berisi bahasa tersirat dan tersurat dan bersifat tekstual sekaligus kontekstual. Ayat-ayatnya relevan untuk semua zaman dan seringkali mengandung makna yang kadang membuat kita harus befikir. Dan inilah yang terjadi kepada saya.
Tahun ini adalah tahun yang berat buat saya. Saya tak bisa sebutkan kenapa tapi saya bisa ceritakan apa yang saya rasakan. Di tahun ini, saya berkutat dengan perasaan emosional yang berlebih hingga mengganggu fungsi saya sebagai manusia normal. Saya sampai pada satu titik di mana saya bertekad bahwa saya tidak akan meremehkan perasaan orang apapun bentuknya. Dan setelah berbulan-bulan berjuang, saya sampai pada satu kesimpulan. Bahwa masalah kita manusia kebanyakan berawal dari rasa takut dan sedih hati. Takut akan masa depan, sedih akan masa lalu. Ketakutan akan masa depan membuat kita tidak mampu melangkah, sedangkan kesedihan masa lalu menahan kita untuk bergerak maju.
Takut, adalah perasaan normal yang dihadapi manusia untuk bertahan hidup. Tanpa rasa takut, manusia tidak mampu waspada akan ancaman. Tanpa takut, manusia tidak akan termotivasi untuk bergerak maju. Tapi rasa takut yang berlebihan, membuat manusia selalu dalam mode waspada dan membuat otak dan tubuh kita kelelahan. Rasa takut berlebihan, akan membuat kita tidak mampu untuk bergerak karena selalu khwatir tentang apa yang akan terjadi. Seringnya, rasa takut dibentuk dari pengalaman masa lalu dan pelajaran di masa lampau. Dan karena koneksi lampau ini, rasa takut sering pula menimbulkan rasa sedih.
Manusia sedih karena beragam sebab. Ada yang sedih karena masa lalu yang tidak sesuai harapan, ada pula yang sedih karena meratapi masa sekarang yang tidak dapat diubah. Meskipun begitu, sedih adalah pembeda antara manusia dan makluk lainnya. Manusia yang berperasaan pasti merasakan sedih. Tapi sedih yang berelebihan membuat kita tidak mampu bergerak dan terus meratapi kondisi. Ini yang dilarang. Maka manusia yang bahagia adalah manusia yang dapat mengendalikan rasa takut dan rasa sedih mereka.
Mari kita lihat apa kata Qur'an tentang takut dan sedih:
1. QS. Al-Baqarah 2:38
Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
2. QS. Al-Baqarah 2:62
Orang-orang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
3. QS. Al-Baqarah 2:112
Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
4. QS. Al-Baqarah 2:262
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
5. QS. Al-Baqarah 2:274
Orang-orang yang berinfak siang dan malam… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
6. QS. Al-Ma’idah 5:69
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal saleh… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
7. QS. Al-A’raf 7:35
Barang siapa bertakwa dan memperbaiki diri… tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
8. QS. Yunus 10:62
Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.
9. QS. Az-Zukhruf 43:68
Wahai hamba-hamba-Ku, pada hari ini tidak ada rasa takut atas kalian dan kalian tidak bersedih.
10. QS. Ali ‘Imran 3:139
Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan bersedih
11. QS. Fussilat 41:30
Janganlah kamu takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan.
Jadi siapa orang-orang yang dapat mengendalikan rasa takut dan sedih ini? apa yang akan mereka dapatkan?
- orang yang mengikuti petunjuk
- orang-orang beriman
- orang yang berserah diri kepada Allah dan berbuat baik
- orang yang menafkahkan harta di jalan Allah
- orang yang berinfak siang dan malam
- orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal sholeh
- orang yang bertakwa dan memperbaiki diri
- wali-wali Allah
- hamba-hamba Allah
- bergembira di surga yang dijanjikan
Apakah ini rumus untuk menjadi bahagia? beriman, berserah diri, berbuat baik, berinfak, dan memperbaiki diri?
Kalau kita bedah, orang yang beriman dan berserah diri kepada Allah tidak ada rasa takut dan sedih di diri mereka. Karena mereka tahu Allah yang akan jamin kehidupannya. Orang yang mampu berbuat baik, memperbaiki diri dan berinfak adalah orang yang lepas dari rasa takut dan sedih. Mereka percaya! Dan itu saya rasa adalah intinya dari agama ini. Percaya dan berserah diri! tapi bukan berserah diri yang pasif. Berserah diri setelah berbuat baik, setelah berinfak, setelah memperbaiki diri. Berserah diri adalah treshold bagi orang beriman, batasan untuk masa depan. Ketimbang takut akan masa depan, lebih baik kita berserah diri kepada Pemilik masa depan. Ketimbang sedih akan masa lalu, lebih baik kita memperbaiki diri dan berbuat baik. Hingga pada akhirnya kita dapat bergembira di surga yang dijanjikan!
- A.A.
No comments:
Post a Comment