Pages

Sunday, 28 December 2025

Pendidikan (tidak) Penting!

Dalam satu kesempatan, Papa bercerita tentang Datuak Mumuak, seorang saudagar asal minangkabau yang merantau ke Bengkulu. Datuak lahir dan besar di sebuah keluarga miskin dari daerah Batusangkar. Kehidupan yang susah membuatnya tergerak untuk merantau, berharap nasib dan peruntungannya berubah. Cemooh dan hinaan di kampung menjadi motivasi bagi beliau untuk sukses. Dengan tekad itu, beliau berjalan kaki selama kurang lebih 60 hari dari Batusangkar ke daerah Curup, Bengkulu dengan membawa dagang hasil bumi yang bisa beliau bawa. Sesampainya di Curup, Datuak menjajakan apapun yang bisa dijual. 
 
Salah satu barang yang beliau jual adalah benang. Beliau membeli benang di Lampung dengan berjalan kaki berhari-hari. Kenapa benang? Karena itu satu-satunya barang yang tidak ada di Kota Curup. Uniknya, dalam perjalanan ke Lampung ini, beliau membuat tongkat bambu yang digunakan untuk membawa barang sekaligus menyimpan uang. Pada masa itu, marak pemeriksaan di jalan oleh serdadu Belanda. Kalaulah ketahuan kita ini saudagar yang membawa uang, bisa habis uang kita diambil. Kadang tongkatnya yang berisi uang ini beliau sembunyikan, nanti kalau sudah aman beliau ambil lagi. Begitulah perjalanan berdagang Sang Datuak cerdik ini pada masa itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kehidupan Datuak yang awalnya sengsara berangsur berubah hingga beliau menjadi saudagar besar. Sejengkal demi sejengkal tanah di Curup dibeli oleh beliau, sampai sampai pejabat daerah sana membujuk beliau untuk tidak lagi membeli tanah. Karena kalau dilanjutkan, bisa habis tanah di kota itu dibelinya. Ituah gambaran betapa kayanya Datuak saat itu.

Ternyata selain sukses berdagang, Datuak juga sukses dalam hal mengembangkan keluarganya. Anaknya banyak dan berkembang. Kalaulah difikir-fikir, enak betul jadi anak beliau. Lahir di keluarga kaya, hidup foya-foya dan tak perlu memikirkan hari tua. Semua rasanya sudah terjamin. 

Namun kenyataan kadang tak semanis harapan. Saat Datuak meninggal, anak-anaknya tak mampu mengembangkan usaha Datuak. Harta yang mulanya seperti tak hingga, pelan-pelan habis karena anak keturunannya tak mampu mengelola. Tanah dan aset hampir semuanya terjual. Dan akhirnya pelan-pelan nama Datuak Mumuak dan keturunannya hilang ditelan jaman.  

Sekelumit kisah ini Papa ceritakan untuk menggambarkan bahwa anak kampung yang miskin dan tidak sekolah, bisa menjadi kaya raya. Hanya tekad dan ketekunan yang menjadi modal. 

Cerita ini bukanlah cerita baru. Banyak konglomerat yang punya kisah serupa. Tapi kalau kita mau kritis melihat alur cerita, ada hal yang sering luput dari bahasan sebagian besar orang. Tentang kisah anak si kaya raya. Kenapa mereka tak mampu seperti orang tuanya?

Mari kita bandingkan dua kisah zero to hero di negeri kita. Tipe yang pertama, yang ingin agar anaknya tidak sengsara seperti dia. Maka dimanjakannya lah anaknya, diberi apa yang dia mau, disayang hampir setiap waktu. Sering bahkan sekolahpun dirasa tak perlu. Tipe yang kedua, yang ingin agar anaknya sukses seperti dirinya. Dia berikan modal pikiran dan pendidikan yang terbaik. Dia sekolahkan dan diikutkan dalam les atau latihan keterampilan. Intinya dia ingin anaknya punya modal yang cukup untuk menggantikan dia. Terlihat bedanya kan? Yang pertama memberikan modal harta, yang kedua memberikan modal pengetahuan dan keterampilan. Tapi sayangnya, tak banyak yang paham. Seperti kata pepatah lama, harta bisa habis, tapi pengetahuan akan terus menerus berkembang dan tak bisa lenyap dari kepala. 

Jadi, apakah pendidikan itu (tidak) penting?

A. A.

 

No comments:

Post a Comment