Pages

Showing posts with label Puisi dan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Puisi dan Sastra. Show all posts

Tuesday, 3 October 2017

Gading, Belang dan Nama

Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama

Friday, 22 January 2016

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, 
biarkan aku sejenak…
Terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi 
sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi…

--
Sapardi Djoko Damono

Akulah Si Telaga

akulah si telaga: 
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil 

yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, 

tinggalkan begitu saja perahumu 
biar aku yang menjaganya

--
Sapardi Djoko Damono

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu 

kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan 
kepada hujan yang menjadikannya tiada 

--

Sapardi Djoko Damono 

Saturday, 16 January 2016

If

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too:


If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don't deal in lies,
Or being hated don't give way to hating,
And yet don't look too good, nor talk too wise;

When I Was Young

When I was young and free and my imagination had no limits,
I dreamed of changing the world. 
As I grew older, and wiser, I discovered the world would not change,
so I shortened my sights somewhat and decided to change only my country.

But it, too, seemed immovable.

Wednesday, 13 January 2016

Tembok

Satu langkah maju, tembok
Mundur, cari jalan lain
Dua langkah maju, tembok
Mundur, cari jalan lain

Tiga langkah, tembok
Empat langkah, tembok
Lima langkah, tembok
Lelah, mundur, tidur

Padahal...
Kalau saja tetap teguh
Setelah tembok kelima
Emas membayar peluh

-- ditulis oleh A.A.