Pages

Sunday, 28 December 2025

Diri yang Terlupakan!

Tulisan ini untuk kamu yang selama ini selalu mendahulukan orang lain, tapi sering abai pada dirimu sendiri...

Tulisan ini juga untuk kamu yang terlalu mementingkan 'apa kata orang', ketimbang 'apa kata hatiku saat ini'..

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang perbedaan pola pengasuhan anak di dunia Barat dengan kita di Indonesia. Artikel ini tentang self-respect dan self-priority, sesuatu yang tidak jamak di temukan di dunia Timur. Bermula dari satu contoh kecil, tentang anak yang berebut mainan. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu adalah orang tua dari anak yang mainannya direbut? Biasanya kita akan bilang, "udah nak, pinjemin aja mainannya", atau "udah nak, kasih aja makanannya". Mungkin maksud kita baik, ingin agar anak tidak pelit dan mau berbagi dengan sesama. Tapi ternyata jika terlalu sering dilakukan, hal ini akan berdampak tidak baik pada anak dan berefek panjang hingga dewasa. Anak bisa tumbuh menjadi orang yang berusaha menyenangkan orang lain, atau yang dalam bahasa Inggris disebut people-pleaser. Anak bisa juga tumbuh menjadi orang yang tidak mampu berkata 'tidak' pada permintaan orang lain. Lantas bagaimana sebaiknya? 

Anak, seperti yang disebutkan pada beberapa tulisan, adalah orang dewasa muda. Bukan masanya lagi 'memaksa' anak untuk memilih satu pilihan tanpa mempertimbangkan pilihan lain. Anak harus diberitahu bahwa barang ini adalah miliknya, dia berhak untuk itu. Di sini anak diajarkan untuk self-respect. Menghargai diri sendiri. Tapi setelah itu anak diberikan pilihan, diberikan pemahaman, apakah anak tersebut mengijinkan jika barangnya dipinjam? Berikan apa manfaat dan kekurangannya. Di sini anak diajarkan self-priority.

Berkaca pada contoh sederhana ini, saya berusaha untuk menelaah ke belakang dan melihat ke sekitar. Betapa banyak dari kita yang selalu dituntut untuk menyenangkan orang lain? Betapa banyak di antara kita yang dituntut untuk memprioritaskan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan pribadi? Dan betapa banyak dari kita yang merasa bahwa itu adalah hal lumrah?

"Don't make people into heroes, John. Heroes don't exist. And if they did, I wouldn't be one of them" (Sherlock Holmes to John Watson).

Selama ini, saya termasuk dalam kategori people pleaser ini. Saya rela menekan perasaan saya, agar orang lain bisa bahagia. Saya bisa menahan ego saya, agar orang lain tidak terluka. Saya mampu membatasi keinginan saya, yang penting orang lain bisa senang. Saya lakukan ini, hingga pada satu titik saya sadar, diri saya sudah lama terluka. Dan pelan-pelan saya berubah tidak lagi sama. 

Dari pengalaman saya belajar, bahwa bahagia itu dua arah, bukan satu sisi. Saya juga belajar, bahwa hubungan yang sehat akan saling menghormati dan menghargai, tidak menekan dan melukai. Saya belajar, bahwa saya juga berhak untuk bahagia. Begitupun kamu! 

- A.A. 

  

No comments:

Post a Comment