Pages

Sunday, 28 December 2025

Sholat: Kalibrasi Diri

Calibration = the process of checking a measuring instrument to see if it is accurate

Dalam dunia mesin, kalibrasi diperlukan untuk memeriksa apakah alat yang digunakan untuk mengukur masih akurat atau tidak. Tanpa kalibrasi, kualitas hasil pengukuran alat tersebut pasti dipertanyakan. 

Sama halnya seperti otak manusia, otak kita digunakan untuk mengukur dan hasil pengukuran itu digunakan sebagai bagian dari penentu keputusan. Jika otak kita terus menerus digunakan, hasil pengukuran bisa bias. Otak bisa lelah. Makanya perlu istirahat. Tidur adalah salah satu cara untuk me-refresh otak kita yang terus bekerja tanpa henti.

Ada satu cara lagi yang bisa kita gunakan tanpa harus tidur, cara tersebut adalah sholat. Sholat yang khusyuk akan mengistirahatkan otak dan membuat diri rileks. Sholat yang khusyuk berarti kita berada dalam puncak penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Apapun yang terjadi, kita serahkan semuanya. Apapun hasilnya, kita pasrahkan pada-Nya. 

Sholat yang khusyuk artinya kita benar-benar hadir. Tidak hanya gerakan tunggak tunggik atau gumaman bacaan sholat yang kadang secepat kilat. Tapi juga merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap gerakan dan doa yang kita bacakan. Bergerak dan berucap sepelan dan sekhusyuk mungkin. Menyerahkan semuanya pada Tuhan. Itu hakikat dari sholat sebagai kalibrasi diri. 

Dan jangan lupa, pahami apa yang dibaca.

- A.A.

 

Diri yang Terlupakan!

Tulisan ini untuk kamu yang selama ini selalu mendahulukan orang lain, tapi sering abai pada dirimu sendiri...

Tulisan ini juga untuk kamu yang terlalu mementingkan 'apa kata orang', ketimbang 'apa kata hatiku saat ini'..

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang perbedaan pola pengasuhan anak di dunia Barat dengan kita di Indonesia. Artikel ini tentang self-respect dan self-priority, sesuatu yang tidak jamak di temukan di dunia Timur. Bermula dari satu contoh kecil, tentang anak yang berebut mainan. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu adalah orang tua dari anak yang mainannya direbut? Biasanya kita akan bilang, "udah nak, pinjemin aja mainannya", atau "udah nak, kasih aja makanannya". Mungkin maksud kita baik, ingin agar anak tidak pelit dan mau berbagi dengan sesama. Tapi ternyata jika terlalu sering dilakukan, hal ini akan berdampak tidak baik pada anak dan berefek panjang hingga dewasa. Anak bisa tumbuh menjadi orang yang berusaha menyenangkan orang lain, atau yang dalam bahasa Inggris disebut people-pleaser. Anak bisa juga tumbuh menjadi orang yang tidak mampu berkata 'tidak' pada permintaan orang lain. Lantas bagaimana sebaiknya? 

Sedih dan Takut: Musuh Utama Manusia?

 "... tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati..."

Frasa tersebut seringkali kita temukan dalam beberapa ayat Qur'an dengan urutan yang sama persis, jangan takut dan jangan bersedih hati. Dulu saya belum paham akan pentingnya ayat ini sampai saya benar-benar mengalami sendiri. Saya teringat bahwa Qur'an berisi bahasa tersirat dan tersurat dan bersifat tekstual sekaligus kontekstual. Ayat-ayatnya relevan untuk semua zaman dan seringkali mengandung makna yang kadang membuat kita harus befikir. Dan inilah yang terjadi kepada saya.

Tahun ini adalah tahun yang berat buat saya. Saya tak bisa sebutkan kenapa tapi saya bisa ceritakan apa yang saya rasakan. Di tahun ini, saya berkutat dengan perasaan emosional yang berlebih hingga mengganggu fungsi saya sebagai manusia normal. Saya sampai pada satu titik di mana saya bertekad bahwa saya tidak akan meremehkan perasaan orang apapun bentuknya. Dan setelah berbulan-bulan berjuang, saya sampai pada satu kesimpulan. Bahwa masalah kita manusia kebanyakan berawal dari rasa takut dan sedih hati. Takut akan masa depan, sedih akan masa lalu. Ketakutan akan masa depan membuat kita tidak mampu melangkah, sedangkan kesedihan masa lalu menahan kita untuk bergerak maju.

Pendidikan (tidak) Penting!

Dalam satu kesempatan, Papa bercerita tentang Datuak Mumuak, seorang saudagar asal minangkabau yang merantau ke Bengkulu. Datuak lahir dan besar di sebuah keluarga miskin dari daerah Batusangkar. Kehidupan yang susah membuatnya tergerak untuk merantau, berharap nasib dan peruntungannya berubah. Cemooh dan hinaan di kampung menjadi motivasi bagi beliau untuk sukses. Dengan tekad itu, beliau berjalan kaki selama kurang lebih 60 hari dari Batusangkar ke daerah Curup, Bengkulu dengan membawa dagang hasil bumi yang bisa beliau bawa. Sesampainya di Curup, Datuak menjajakan apapun yang bisa dijual. 
 
Salah satu barang yang beliau jual adalah benang. Beliau membeli benang di Lampung dengan berjalan kaki berhari-hari. Kenapa benang? Karena itu satu-satunya barang yang tidak ada di Kota Curup. Uniknya, dalam perjalanan ke Lampung ini, beliau membuat tongkat bambu yang digunakan untuk membawa barang sekaligus menyimpan uang. Pada masa itu, marak pemeriksaan di jalan oleh serdadu Belanda. Kalaulah ketahuan kita ini saudagar yang membawa uang, bisa habis uang kita diambil. Kadang tongkatnya yang berisi uang ini beliau sembunyikan, nanti kalau sudah aman beliau ambil lagi. Begitulah perjalanan berdagang Sang Datuak cerdik ini pada masa itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kehidupan Datuak yang awalnya sengsara berangsur berubah hingga beliau menjadi saudagar besar. Sejengkal demi sejengkal tanah di Curup dibeli oleh beliau, sampai sampai pejabat daerah sana membujuk beliau untuk tidak lagi membeli tanah. Karena kalau dilanjutkan, bisa habis tanah di kota itu dibelinya. Ituah gambaran betapa kayanya Datuak saat itu.

Ternyata selain sukses berdagang, Datuak juga sukses dalam hal mengembangkan keluarganya. Anaknya banyak dan berkembang. Kalaulah difikir-fikir, enak betul jadi anak beliau. Lahir di keluarga kaya, hidup foya-foya dan tak perlu memikirkan hari tua. Semua rasanya sudah terjamin. 

Namun kenyataan kadang tak semanis harapan. Saat Datuak meninggal, anak-anaknya tak mampu mengembangkan usaha Datuak. Harta yang mulanya seperti tak hingga, pelan-pelan habis karena anak keturunannya tak mampu mengelola. Tanah dan aset hampir semuanya terjual. Dan akhirnya pelan-pelan nama Datuak Mumuak dan keturunannya hilang ditelan jaman.  

Thursday, 26 June 2025

Ilusi Teknologi: Technosolutionism

Teknologi itu hanyalah sarana, bukan tujuan akhir - A.A.

Beberapa waktu belakangan, pikiran saya terusik dengan fenomena yang dinamakan sebagai technosolutionism. Technosolutionism adalah suatu paham yang beranggapan bahwa teknologi dapat menjadi solusi bagi semua permasalahan sosial, namun seringkali mengabaikan isu-isu lain yang relevan. Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh Evgeny Morozov dalam bukunya "To Save Everything, Click Here: The Folly of Technological Solutionism". Buku ini mendeskripsikan dengan detail fenomena yang sering terjadi saat ini; mengasumsikan bahwa teknologi adalah jawaban atas semua masalah, tanpa menggali dan memahami lebih dalam permasalahan tersebut. Buku terbitan 2013 ini merupakan respon dari masifnya ide-ide dan pengembangan aplikasi pada saat itu. Alih-alih memberikan manfaat, aplikasi-aplikasi tersebut terkesan sia-sia dan tidak efektif untuk menyelesaikan masalah. Salah satu aplikasi yang digambarkan pada buku tersebut adalah BinCam. BinCam merupakan tempat sampah 'pintar' yang dapat memotret dan membagikan potret tersebut di media sosial setiap kali kita membuka dan membuang sampah di tempat sampah tersebut. Alih-alih menyelesaikan masalah lingkungan atau mendorong kesadaran, aplikasi ini justru memicu kontroversi. The Wall Street Journal pun memberikan judul yang kontroversial terkait ulasan inovasi tersebut dengan judul, "Is Smart Making Us Dumb?".